Month: October 2017

Makalah Cerita Rakyat Bawang Merah Bawang Putih

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirobilalamin segala puji bagi Allah SWT Tuhan Semesta Alam. Puji dengan Ridho dan izin-Nya kepada kami sehingga Saya dapat menyelesaikan Makalah dengan tepat waktu.

 

Makalah ini  berjudul “Makalah Cerita Rakyat Bawang Merah Bawah Putih”. Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang apa saja yang ada dalam konteks cerita tersebut.

 

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

 

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Dan dengan makalah ini semoga bisa kita ambil pelajaran untuk kita terapkan dalam kehidupan kita yang sebenarnya.

 

Pekanbaru, 24 Oktober 2017

Penyusun

 

 

DAFTAR ISI

Kata Pengantar

Daftar Isi

Bab I Pendahuluan

A.Latar Belakang

B.Rumusan Masalah

C.Tujuan

Bab II Pembahasan

A.Cerita Bawang Merah Bawang Putih

B.Tokoh Cerita Bawang Merah Bawang Putih

C.Sejarah Cerita Bawang Merah Bawang Putih

D.Kandungan Pelajaran Cerita Bawang Merah Bawang Putih

Bab III Penutup

A.Kesimpulan

B.Saran

Daftar Pustaka

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Cerita dan kisah dalam cerita rakyat nusantara bawang merah bawang putih berupa cerita yang mengandung nilai pelajaran bagi kehidupan. Kondisi yang ada pada cerita rakyat ini hampir sama dengan kejadian di kehidupan yang nyata.

Cerita-cerita yang ada di indonesia adalah bagian dari budaya indonesia yang patut di lestarikan. Ini adalah salah satu warisan budaya kita yang khas asli indonesia. Dengan demikian nilai historis sebuah cerita dapat terus terjaga dengan kandungan nilai-nilai yang ada dalam cerita.

 

B.Rumusan Masalah

  1. Bagaimana cerita bawang merah bawang putih
  2. Siapa saja toko dalam cerita bawang merah bawang putih
  3. Bagaimana sejarah cerita bawang merah bawang putih
  4. Apa saja nilai-nilai yang terkandung dalam cerita bawang merah bawang putih

 

C.Tujuan

  1. Mengetahui cerita bawang merah bawang putih
  2. Mengetahui tokoh cerita bawang merah bawang putih
  3. Mengetahui sejarah cerita bawang merah bawang putih
  4. Mengetahui nilai apa saja yang terkandung dalam cerita bawang merah bawang putih

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.Cerita Bawang Merah Bawang Putih

Alkisah di sebuah kampung, hiduplah seorang janda yang memiliki dua orang anak gadis yang cantik, Bawang Merah dan Bawang Putih. Ayah kandung Bawang Putih telah lama meninggal dunia. Bawang Merah dan Bawang Putih memiliki sifat dan perangai yang sangat berbeda dan bertolak belakang. Bawang Putih adalah gadis sederhana yang rendah hati, tekun, rajin, jujur dan baik hati. Sementara Bawang Merah adalah seorang gadis yang malas, sombong, suka bermewah-mewah, tamak dan pendengki. Sifat buruk Bawang Merah kian menjadi-jadi akibat ibunya selalu memanjakannya. Sang janda selalu memenuhi semua permintaan dan tuntutan Bawang Merah. Selain itu semua pekerjaan di rumah selalu dilimpahkan kepada Bawang Putih. Mulai dari mencuci pakaian, memasak, membersihkan rumah, hampir semua pekerjaan rumah selalu dikerjakan oleh Bawang Putih seorang diri, sementara Bawang Merah dan Ibu Tiri selalu berdandan dan bermalas-malasan. Jika mereka memerlukan sesuatu, tinggal menyuruh-nyuruh Bawang Putih.

 

Bawang Putih tak pernah sekalipun mengeluhkan nasib buruknya. Ia selalu siap sedia melayani sang Ibu Tiri dan Saudari Tirinya dengan senang hati. Pada suatu hari Bawang Putih tengah mengerjakan pekerjaan rumah mencuci pakaian milik Ibu Tiri dan Saudari Tirinya. Akan tetapi Bawang Putih tak menyadari bahwa sehelai kain milik Ibu Tirinya telah hanyut terbawa arus sungai. Ketika Bawang Putih menyadarinya, ia sangat sedih dan takut bila diketahui hilangnya kain itu, maka ia akan dimarahi dan disalahkan oleh Ibu Tirinya. Bukan mustahil bahwa Bawang Putih akan dihukum bahkan diusir dari rumahnya.

 

Khawatir kehilangan kain tersebut, Bawang Putih dengan gigih dan tekun tetap mencarinya sambil berjalan menyusuri sepanjang sungai yang berarus deras itu. Tiap kali bertemu seseorang di sungai ia selalu menanyakan apakah mereka melihat kain tersebut. Sayang sekali tak seorangpun yang melihat dimana kain hanyut itu berada. Hingga pada akhirnya Bawang Putih tiba di bagian sungai yang mengalir ke dalam gua. Ia sangat terkejut ketika mengetahui ada seorang nenek tua yang tinggal di dalam gua tersebut. Bawang Putih menanyai nenek tua itu mengenai keberadaan kain Ibu Tirinya. Nenek tua itu mengetahui dimana kain itu berada, akan tetapi ia mengajukan syarat bahwa Bawang Putih harus membantu pekerjaan sang nenek tua. Karena telah terbiasa bekerja keras, dengan senang hati Bawang Putih menyanggupi untuk membantu sang nenek merapikan dan membersihkan gua tersebut. Nenek tua itu sangat puas dengan hasil pekerjaan Bawang Putih. Pada sore harinya Bawang Putih berpamitan kepada sang nenek. Sang nenek itu kemudian mengembalikan kain milik Ibu Tiri Bawang Putih yang hanyut di sungai, seraya menawarkan kepada Bawang Putih dua buah labu sebagai hadiah atas pekerjaannya. Dua buah labu itu berbeda ukuran, satu besar dan yang lainnya kecil. Karena Bawang Putih tidak serakah dan tamak, ia memilih labu yang lebih kecil.

 

Ketika kembali ke rumah, sang Ibu Tiri dan Saudari Tirinya amat marah karena Bawang Putih terlambat pulang. Bawang Putih pun menceritakan apa yang telah terjadi. Ibu Tiri yang tetap marah karena Bawang Putih hanya membawa sebutir labu kecil, ia kemudian merebutnya dan membanting buah itu ke tanah. “Prak…” pecahlah labu itu, akan tetapi terjadi suatu keajaiban, di dalam labu itu terdapat perhiasan emas, intan, dan permata. Mereka semua terkejut dibuatnya. Akan tetapi karena Ibu Tiri dan Bawang Merah adalah orang yang tamak, mereka tetap memarahi Bawang Putih karena membawa labu yang lebih kecil. Jika saja Bawang Putih memilih buah yang lebih besar, tentu akan lebih banyak lagi emas, intan, dan permata yang mereka dapatkan.

 

Karena sifat serakah dan tamak, Bawang Merah berusaha mengikuti apa yang dilakukan Bawang Putih. Dengan sengaja ia menghanyutkan kain milik ibunya, kemudian berjalan mengikuti arus sungai dan menanyai orang-orang yang ia temui. Akhirnya Bawang Merah tiba di gua tempat nenek itu tinggal. Tidak seperti Bawang Putih, Bawang Merah yang malas menolak membantu nenek itu. Ia bahkan dengan sombongnya memerintahkan nenek tua itu untuk menyerahkan labu besar itu. Maka nenek tua itu pun memberikan labu besar itu kepada Bawang Mer9ah. Dengan riang dan gembira Bawang Merah membawa pulang labu besar pemberian nenek tua itu. Telah terbayang dalam benaknya betapa banyak perhiasan, intan, dan permata yang akan ia miliki. Sang Ibu Tiri pun dengan gembira menyambut kepulangan putri kesayangannya itu. Tak sabar lagi mereka berdua memecahkan labu besar itu. Akan tetapi apakah yang terjadi? Bukannya perhiasan yang didapat, dari dalam labu itu keluar berbagai macam ular dan hewan berbisa. Mereka berdua lari ketakutan. Baik Ibu Tiri maupun Bawang Merah akhirnya menyadari sifat buruk dan ketamakan mereka. Mereka menyesali bahwa selama ini telah berbuat buruk kepada Bawang Putih dan memohon maaf pada Bawang Putih. Bawang Putih yang baik hati pun memaafkan mereka berdua

 

B.Tokoh Cerita Bawang Merah Bawang Putih

Dalam cerita rakyat ini tokoh yang berperan yaitu Bawang Merah dan Bawang Putih. Yang keduanya dalam cerita ini merupakan dua orang gadis cantik kakak beradik yang memiliki sifat dan perangai sangat berbeda lagi bertolak belakang antara yang satu dengan yang lainya, serta mengenai seorang ibu tiri yang tidak adil dan pilih kasih terhadap salah satu kedua anak tersebut.

1. Bawang Putih, Bawang Putih adalah gadis sederhana yang rendah hati, tekun, rajin, jujur dan baik hati

2. Bawang Merah, Sementara Bawang Merah adalah seorang gadis yang malas, sombong, suka bermewah-mewah, tamak dan pendengki

 

C.Sejarah Cerita Bawang Merah Bawang Putih

Bawang Merah Bawang Putih adalah dongeng populer Melayu Indonesia yang berasal dari Riau. Kisah ini bercerita mengenai dua orang gadis cantik kakak beradik yang memiliki sifat dan perangai sangat berbeda lagi bertolak belakang, serta mengenai seorang ibu tiri yang tidak adil dan pilih kasih. Dongeng ini memiliki tema dan pesan moral yang hampir sama dengan dongeng Cinderella dari Eropa.

 

D.Kandungan Pelajaran Cerita Bawang Merah Bawang Putih

  1. Kandungan yang terdapat pada cerita ini adalah sebagai orang tua meskipun kita adalah orang tua tiri kita tidak boleh menbeda-bedakan kasih sayang terhadap anak kita
  2. Sebagai anak kandung, kita juga semestinya menghargai dan menghormati saudara kita yang tidak sekandung dari kita
  3. Sesama saudara kita harus saling menghargai, menghormati dan membantu, terlebih lagi saudara kita tersebut lebih tua dari pada kita
  4. Sifat angkuh dan keras hati akan musnah dengan ketidakbaikannya

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.Kesimpulan

Sebuah cerita rakyat yang berguna untuk menjadi pelajaran bagi kita semua. Cerita ini mengintisari seperti halnya kehidupanya nyata. Hal demikian sepatutnya tidak terjadi karena semua makhluk ciptaan tuhan adalah sama. Kita semua adalah saudara baik status kekeluargaan kita anak kandung, anak tiri.

Bagi orang tua sudah selayaknya memberikan kasih sayang yang tak terbedakan dengan status yang ada. Karena kasih sayang adalah sebuah ketulusan dari hati.

 

B.Saran

Semoga dengan adanya kisah dalam cerita seperti ini, dapat dijadikan contoh dan pelajaran bagi kediupan kita semua. Bawha sifat baik itu pasti akan kembali kepada kita sendiri dan sifat buruk juga nantinya akan kembali kepada kita sendiri.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Bawang_Merah_Bawang_Putih

 

 

 

 

Makalah Sastra Bandingan

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “Makalah Tentang Sastra Bandingan”.

 

Makalah ini berisikan informasi tentang Makalah Tentang Sastra Bandingan. Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang sastra bandingan.

 

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

 

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

 

Pekanbaru, 13 september 2017

Penyusun

 

DAFTAR ISI

 

Kata Pengantar

Daftar Isi

Bab I Pendahuluan

  1. Latar Belakang
  2. Rumusan Masalah
  3. Tujuan

Bab II Pembahasan

  1. Pengertian Sastra Bandingan
  2. Sejarah Sastra Bandingan
  3. Bidang Kajian Sastra Bandingan
  4. Praktik Sastra Bandingan
  5. Syarat Objek Dan Subjek Sastra Bandingan
  6. Tahapan Analisis Sastra Bandingan

Bab III Penutup

  1. Kesimpulan
  2. Saran

Daftar Pustaka

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

Metode sastra bandingan hampir menyerupai dengan sebuah metode kritik sastra, yang mana objek dari konsep ini  lebih dari satu karya. Penekanan atau titik penting sastra bandingan adalah pada aspek kesejarahan teks. Itulah mengapa sebabnya sastra bandingan bersifat positivistic dan penuh penilaian. Kajiannya bertema binari (duaan) dan bertumpu pada rapport defaits, artinya perhubungan faktual antara dua buah teks yang diteliti secara pasti.

 

Selain itu kegiatan yang dilakukan juga menganalisis, menafsirkan dan menilai karena objeknya lebih dari satu, setiap objek harus ditelaah, barulah hasil telaah tersebut diperbandingkan. Bisa saja, peneliti melakukan analisis struktural kedua karya, baru diperbandingkan. Maka dengan cara ini akan mempermudah peneliti melakukan bandingan. Setidaknya akan mudah ditemukan unsur persamaan dan perbedaan setiap karya sastra.

 

Pada penelitian sastra bandingan dengan menggunakan metode diakronis merupakan penelitian resepsi sastra yang dilakukan terhadap tanggapan­tanggapan pembaca dalam beberapa periode atau jangka waktu. Namun, periode waktu yang dimaksud masih berada dalam satu rentang waktu.

 

Penelitian resepsi diakronis ini dilakukan berdasarkan tanggapan­tanggapan pembaca dalam beberapa periode yang berupa kritik sastra atas karya sastra yang dibacanya, maupun dari teks­teks  yang muncul setelah karya sastra yang dimaksud. Pada umumnya penelitian resepsi diakronis dilakukan atas tanggapan pembaca yang berupa kritik sastra, baik yang termuat dalam media massa maupun dalam jurnal ilmiah dan juga dari berbagai sumber yang ada.

 

B.Rumusan Masalah

  1. Apa itu sastra bandingan ?
  2. Bagaimana sejarah sastra bandingan ?
  3. Seperti apakah bidang kajian sastra bandingan ?
  4. Bagaimana praktik sastra bandingan ?
  5. Apa saja syarat objek dan subjek sastra bandingan ?
  6. Seperti apa tahapan analisis sastra bandingan ?

 

C.Tujuan

  1. Mengetahui Apa itu sastra bandingan
  2. Mengetahui sejarah sastra bandingan
  3. Mengetahui bidang kajian sastra bandingan
  4. Memahami praktik sastra bandingan
  5. Mengetahui syarat objek dan subjek sastra bandingan
  6. Mengetahui apa saja tahapan analisis sastra bandingan

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.Pengertian Sastra Bandingan

Sastra bandingan adalah salah satu dari bagian dari sekian banyak pendekatan yang dibahas dalam ilmu sastra. Dijelaskan Dalam kamus Webster  bahwa sastra bandingan adalah teknik analisis yang mempelajari hubungan timbal balik karya sastra dari dua atau lebih kebudayaan nasional yang biasanya berlainan  atau berbeda bahasa, dan terutama pengaruh karya sastra yang satu terhadap karya sastra yang lain akan di ketahui dampak dan nilai sastra budayanya.

 

Menurut Dewi Nawang Wulan dalam penelitiannya, Damono menyatakan, sastra bandingan adalah pendekatan dalam ilmu sastra yang tidak dapat menghasilkan teori sendiri. Boleh dikatakan teori apapun bisa dimanfaatkan dalam penelitian sastra bandingan, sesuai dengan objek dan tujuan penelitiannya. Sastra bandingan dalam beberapa tulisan juga disebut sebagai studi atau kajian. Metode perbandingan adalah yang utama dalam langkah-langkah yang dilakukannya (2013: 1).

 

Berlanjut dalam penelitiannya di jelaskan bahwa kajian (penelitian) sastra bandingan mempelajari bermacam-macam persamaan dan perbedaan yang terdapat dalam karya sastra yang dibandingkan, yang bersifat universal maupun orisinal, misalnya tentang jenis-jenis sastra, struktur, style, tema, amanat, atau isinya secara keseluruhan. Tujuan utama kajian  (penelitian) sastra bandingan adalah menelaah/menemukan kekhasan atau sifat- sifat khas dari karya sastra yang dibandingkan (Noor, 2015: 9).

 

B.Sejarah Sastra Bandingan

Istilah sastra bandingan kali pertama muncul di negara Inggris yang dipelopori oleh para pemikir Perancis seperti Fernand Baldensperger, Jean-Marie Carre’, Paul van Tieghem, dan Marius-Francois Guyard. Mereka ini dalam ilmu sastra bandingan akhirnya lebih dikenal sebagai pelopor aliran Perancis atau aliran lama (Hutomo, 1993: 1). Pada perkembangan selanjutnya, sastra bandingan ini juga berkembang di Amerika, mengembangkan konsep-konsep sastra bandingan aliran Perancis, sehingga sastra bandingan aliran Amerika ini disebut sebagai aliran baru (Hutomo, 1993: 1).

 

Aliran Perancis sebagai aliran lama berpendapat bahwa sastra bandingan adalah pembandingan sastra secara sistematik dari dua negara yang berlainan (Hutomo, 1993: 1). Sedangkan aliran Amerika berpandangan lebih luas. Aliran Amerika tidak hanya membandingkan dua karya sastra dari dua negara yang berlainan, tetapi juga membandingkan sastra dengan bidang ilmu atau seni tertentu (Hutomo, 1993: 3). Oleh aliran Perancis hal tersebut tidak disetujui. Namun dalam praktiknya ternyata aliran Perancis juga melaksanakan konsep aliran Amerika (Hutomo, 1993: 4).

 

Aliran Prancis menurut Clements dikatakan sebagai aliran yang hanya membandingkan hanya unsur intrinsik dua buah karya sastra atau lebih yang segenre. Sedangkan aliran Amerika menurut Remark juga merupakan aliran yang membandingkan dua buah karya sastra atau lebih yang segenre. Hanya saja bidang yang dibandingkan tidak hanya unsur intrinsik karya sastra tersebut, tetapi dikaitkan juga dengan bidang ilmu yang lain seperti filsafat, sosiologi, politik, agama, budaya, dan sebagainya.

 

C.Bidang Kajian Sastra Bandingan

Bidang kajan dalam sastra bandingan terdapat banyak aspek dan hal. Bidang kajian penelitian yang digunakan dalam sastra bandingan sangat luas dan tidak ada patokan khusus di dalamnya. Menurut Kasim tiap peneliti boleh membandingkan unsur apa saja yang memiliki kemiripan. Bidang-bidang pokok yang menjadi titik perhatian dalam perhatian dalam penelitian sastra bandingan menurut Kasim (dalam Endraswara, 2011: 81) adalah sebagai berikut:

  1. Tema dan motif, melingkupi buah pikiran,  gambaran perwatakan, alur (plot), episode, latar (setting), ungkapan-ungkapan
  2. Genre dan bentuk (form), stalistika, majas, suasana
  3. Aliran (moventent) dan angkatan (generation)
  4. Hubungan karya sastra dengan ilmu pengetahuan, agama/ kepercayaan, dan
    karya-karya seni
  5. Teori sastra, sejarah sastra, dan teori kritik sastra

 

D.Praktik Sastra Bandingan

Dalam praktiknya Studi sastra bandingan menurut Hutomo (1993: 11-12) terdapat 3 landasan yaitu:

  1. Afinitas, yaitu keterkaitan unsur-unsur intrinsik (unsur dalaman) karya sastra, misalnya unsur struktur, gaya, tema, mood (suasana yang terkandung dalam karya sastra) dan lain-lain, yang dijadikan bahan penulisan karya sastra.
  2. Tradisi, yaitu unsure yang berkaitan dengan kesejarahan penciptaan karya sastra.
  3. Pengaruh.

 

E.Objek Kajian dalam  Sastra Bandingan

Objek kajian Sastra Bandingan menurut Suripan Sadi Hutomo (1990: 9-11) adalah sebagai berikut:

  1. Membandingkan dua karya sastra dari dua Negara yang bahasanya benar-benar berbeda.
  2. Membandingkan dari dua Negara yang berbeda dalam bahasa yang sama. Dalam situasi yang benar-benar sama atau dalam dialek yang berbeda Misalnya: novel “Salina” karya A. Samad Said (Malaysia) dengan novel “Puncak Pertama” karya Muslim Burmat (Brunei).
  3. Membandingkan karya awal seorang pengarang di Negara asalnya dengan karya setelah berpindah kewarganegaraannya. Misalnya: NH Dini, Hati yang Damai (sewaktu WNI) dengan Pada Sebuah Kapal (WN Perancis).
  4. Membandingkan karya seorang pengarang yang telah menjadi warga suatu Negara tertentu dengan karya seorang pengarang dari Negara lain.
  5. Membandingkan karya seorang pengarang Indonesia dalam bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Misalnya, Ajip Rosidi (Sunda — Indonesia).
  6. Membandingkan dua karya sastra dari dua orang pengarang berwarga Negara Indonesia yang menulis dalam bahasa asing yang berbeda.
  7. Membandingkan karya sastra seorang pengarang yang berwarga Negara asing di suatu Negara dengan karya pengarang dari Negara yang ditinggalinya (kedua karya sastra ini ditulis dalam bahasa yang sama).

 

F.Tahapan Analisis Sastra Bandingan

Francois Jost (dalam rahman, 2000:6-7) mengemukakan empat hal jurus tahap analisis sastra bandingan, yaitu:

  1. Mencermati karya sastra satu dengan lainya menelusuri pengaruh karya sastra satu dengan yang lainya, termasuk disini adalah interdisipliner sastra bandingan, seperti sosiologi, filsafat, psikologi;
  2. Kategori yang mengkaji tema karya sastra.
  3. Kategori yang menganalisis gerakan atau kecendrungan yang menandai suatu pradaban, misalnya realisme dan renaissance,serta
  4. Analisis bandingan antara genre satu dengan genre yang lain.

 

BAB III

PENUTUP

 

A.Kesimpulan

Sastra bandingan merupakan sebuah kajian yang memuat nilai kandungan dari sebuah sastra. Untuk sastra yang di kaji punya banyak jenis misalnya cerita, novel, dan lainya. Baik mulai dari sastra tulisan maupun lisan.

 

Dalam analisis sastra banding memerlukan ketelitian yang jernih dalam pembahasannya. Adapun hal-hal  yang dibutuhkan ketika menganalisis yaitu konstruksi analisis harus jelas,tegas,dan mengarah ke sastra bandingan. Analisis selalu menuju pada penemuan relasi antara dua karya atau lebih antara karya sastra dengan aspek lain. Hal penting lainya adalah kesejajaran menjadi tumpuan analisis.

 

B.Saran

  1. Dengan adanya sastra bandingan di harapkan dapat terus mengembangkan nilai-nilai yang ada pada sebuah sastra
  2. Ketelitian adalah hal yang penting dalam pembahasan analisis sastra bandingan
  3. Untuk objektivitas sastra bandingan penting sekali dilakukan

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. http://tenriawali.blogspot.co.id/2012/04/definisi-sastra-bandingan.html di akses pada jum’at 13 oktober 2017
  2. http://eprints.uny.ac.id/8495/3/BAB%202-08205241009.pdf di akses pada jum’at 13 oktober 2017
  3. http://eprints.undip.ac.id/50845/1/full_fix.pdf di akses pada jum’at 13 oktober 2017
  4. http://andrinovansyah.blogspot.co.id/2016/10/makalah-sastra-bandingan-metode.html di akses pada jum’at 13 oktober 2017

 

 

Makalah Cerita Rakyat Indonesia

Kata Pengantar

 

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “Makalah Cerita Rakyat Indonesia”.

 

Makalah ini berisikan informasi tentang Makalah Cerita Rakyat Indonesia. Diharapkan Makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua tentang cerita rakyat Indonesia.

 

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

 

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

 

Pekanbaru, 6 september 2017

Penyusun

 

Daftar Isi

Kata Pengantar

Daftar Isi

Bab I Pendahuluan

A. Latar Belakang

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan

Bab II Pembahasan

A. Pengertian Cerita Rakyat

B. Manfaat dan Fungsi Cerita Rakyat

C. Jenis-jenis Cerita Rakyat

D. Contoh Cerita Rakyat

Bab III Penutup

A. Kesimpulan

B. Saran

Daftar Pustaka

 

Bab I

Pendahuluan

A. Latar Belakang

Cerita rakyat merupakan salah satu dari sekian banyak ragam tradisi lisan di
Indonesia. Cerita rakyat bagi masyarakat Indonesia berperan penting bagi kehidupannya.

 

Melalui cerita rakyat, masyarakat merasa hidup aman, tenteram dan damai karena fungsi salah satu cerita rakyat itu adalah menjadikan mereka merasa bersaudara, karena mereka yakin bahwa mereka berasal dari nenek moyang yang sama.

 

Cerita rakyat sangat besar pengaruhnya terhadap masyarakatnya, karena mampu menjadi pedoman hidup bagi masyarakatnya, itu juga berlaku pada cerita rakyat masyarakat di Indonesia.

 

Cerita rakyat merupakan tradisi lisan, Indonesia adalah negara yang kaya akan nilai – nilai budaya dan kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun temurun. Tradisi lisan mengungkapkan kejadian atau peristiwa yang mengandung nilai moral, keagamaan, adat istiadat, fantasi, peribahasa, nyanyian dan mantra.

 

Cerita rakyat yang sarat akan nilai – nilai moral dan kearifan lokal yang bisa menjadi sarana komunikasi untuk mengajarkan nilai- nilai tentang kehidupan kepada anak- anak.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana pengertian cerita rakyat ?
  2. Apa manfaat cerita rakyat ?
  3. Apakah fungsi cerita rakyat ?
  4. Seperti apakah jenis-jenis cerita rakyat ?

C. Tujuan

  1. Mengetahui apa itu cerit rakyat
  2. Mengetahui manfaat cerita rakyat
  3. Mengetahui fungsi cerita rakyat
  4. Mengetahui jenis cerita rakyat

 

Bab II

Pembahasan

A. Pengertian Cerita Rakyat

Cerita rakyat pada mulanya adalah peristiwa bahasa lisan; ia dituturkan, bukan dituliskan. Sebagai tuturan, cerita rakyat bekerja dengan dan melalui kombinasi berbagai kualitas suara manusia – misalnya, vokal dan konsonan, tinggi-rendah suara, panjang-pendek suara, jeda, tekanan, warna suara, dan sebagainya.

 

Kombinasi berbagai kualitas suara manusia tersebut hadir serentak dalam peristiwa lisan. Selain dari itu, tuturan juga bekerja dengan melibatkan tanda-tanda non-kebahasaan, seperti roman muka, gerak tubuh dan anggota badan, serta kadangkala dibantu pula dengan kehadiran benda-benda. Dengan demikian, peristiwa lisan sejatinya merupakan peristiwa pengungkapan dan penafsiran tanda-tanda aural, visual, maupun kinetik

 

B. Manfaat dan Fungsi Cerita Rakyat

Cerita rakyat Indonesia Khususnya mempunya banyak manfaat bagi kehidupan masyarakat di Indonesia. Baik itu Cerita  rakyat untuk usia dini, maupun cerita rakyat untuk dewasa, berikut ini manfaat dan fungsi cerita dari berbagai aspek:

  1. Sebagai media untuk menumbuhkan minat baca
  2. Media pembantu pengembang kecerdasan
  3. Pengenalan ragam emosi pada dialog cerita dengan karakteristik yang ada
  4. Sebagai alat pengenal secara pada cerita yang ada
  5. Sebagai media penghibur
  6. Penambah wawasan dan ilmu pengetahuan

Cerita rakyat juga memiliki fungsi sebagai penggalang rasa kesetiakawanan diantara warga masyarakat yang menjadi pemilik cerita rakyat tersebut. Di atas telah dijelaskan bahwa cerita rakyat itu lahir ditengah masyarakat tanpa diketahui lagi siapa yang menciptakan pertama kali.

 

Fungsi lain lagi dari cerita eakyat adalah sebagai pengokoh nilai-nilai sosial budaya yang  berlaku dalam masyarakat. Dalam cerita rakyat terkadang ajaran-ajaran etika dan moral bisa dipakai sebagai pedoman bagi masyarakat. Di samping iu di dalamnya juga terdapat larangan dan pantangan yang perlu dihindari. Cerita rakyat bagi warga masyarakat pendukungnya bisa menjadi tuntunan tingkah laku dalam pergaulan sosial.

 

Apalagi bagi masyarakat yang belum mengenal pendidikan formal dalam bentuk sekolah, maka cerita rakyat menjadi sarana untuk mengajarkan budi pekerti. Dan karena penyampaiannya mengasyikkan maka meskipun sesungguhnya cerita rakyat itu mengajar dan mendidik  pendengarnya, tetapi yang diajar atau dididik tidak merasa dipaksa, melainkan dengan tingkat kedewasaannya masing-masing bisa menyerap ajaran yang terjalin di dalam cerita, inti ajaran dalam cerita rakyat tidak akan mengalami perubahan selama masyarakat pemiliknya juga tidak berubah dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai yang masih berlaku.

 

Sehubungan dengan hal diatas, erita rakyat juga befungsi sebagai pengontrol kehiduapn sosial. Bila dalam masyarakat bterjadi kepincangan atau pelanggaran norma-norma, maka dengan melalui cerita rakyat hal-hal yang tidak sewajarnya itu bisa dikritik. Sipenutur cerita dengan leluasa bisa mengubah bagian-bagian cerita yang isinya merupakan pelontaran kritik-kritik tanpa merasa segan terhadap pihak-pihak yang menjadi sasaran kritiknya.

 

C. Jenis Cerita Rakyat

Cerita rakyat mempunya beberapa tipe dan jenis, berikut ini tipe dari cerita rakyat jika di lihat dari nilai sastranya:

1. Cerita Lisan

Cerita lisan (Udin, 1996:1) adalah seperangkat pertunjukan penuturan lisan yang melibatkan penutur dan kalayak (audien) menurut tata cara dan tradisi pertunjukannya. Sedangkan menurut  (Nisya, http://hairun-nisya.blogspot.com) adalah karya sastra yang beredar di masyarakat atau diwariskan secara turun-memurun dalam bentuk lisan.

2. Cerita Tulis

Cerita tulis (Sulastin Sutrisno, 1985) adalah sastra yang menggunakan media tulisan atau  literal. Sedangkan menurut (KBBI, 2004) adalah sastra yang timbul setelah manusia mengenal tulisan.

 

Jenis cerita rakyat:

  1. Fabel atau cerita binatang, yaitu sebuah cerita rakyat yang tokoh pelakunya berupa binatang, dan binatang tersebut bisa berperilaku seperti manusia. Misalnya, Kancil yang Cerdik dan cerita Serigala yang Licik.
  2. Legenda, yaitu sebuah cerita yang berisi tentang asal-usul terjadinya suatu tempat, misalnya saja cerita Asal-Usul Banyuwangi, Asal Usul Danau Toba, dan Terbentuknya Tangkuban Perahu. Diwilayah Jawa Tengah terkenal dengan cerita ” Baru Klinting”
  3. Mite, adalah cerita yang berisi mengenai dewa-dewi atau cerita sifatnya sakral dan penuh mistis misalnya, kisah Nyi Roro Kidul, Dewi Sri, dan Hikayat Sang Boma.
  4. Sage, yaitu sebuah cerita yang isinya mengandung unsur sebuah sejarah, misalnya, Damarwulan, Ciung Wanara, dan Rara Jonggrang.
  5. Epos, yaitu sebuah cerita kepahlawanan, misalnya, Ramayana dan Mahabarata.
  6. Cerita jenaka, yaitu sebuah cerita yang menceritakan mengenai kebodohan atau sesuatu yang lucu, misalnya cerita Pak Pandir, Pak Belalang, dan Cerita Si Kabayan.

 

D. Contoh Cerita Rakyat

Berikut ini beberapa contoh cerita rakyat yang ada di indonesia :

  1. Asal mula danau toba
  2. Asal mula salatiga
  3. Sangkuriang
  4. Cindelaras
  5. Timun Mas
  6. Malin Kundang
  7. Batu Menangis
  8. Keong Mas
  9. Bawang Merah Bawang Putih
  10. Si Pitung
  11. Loro Jonggrang

 

 

Bab III

Penutup

A. Kesimpulan

Cerita rakyat merupakan bagian dari secara yang berguna untuk generasi muda khususnya Indonesia. Dengan adanya cerita rakyat, maka masyarakat khususnya generasi muda, dapat kita kenalkan nilai-nilai yang ada pada cerita rakyat tersebut.

Beberapa nilai yang penting dan perlu di ajarkan adalah nilai sosial, nilai budaya, dan juga nilai pendidikan. Nilai-nilai tersebut penting karena sebagai media untuk mengembangkan wawasan dan ilmu pengetahuan.

 

B. Saran

  1. Guna melestarikan cinta budaya  cerita rakyat. Dengan ini di harapkan banyaknya media-media yang membantu untuk menyebar luaskan tentang cerita rakyat.
  2. Terus mengenalkan cerita rakyat kepada generasi muda
  3. Memperkaya pengenalan cerita rakyat

Daftar Pustaka

  1. Pengertian Cerita Rakyat (http://scholar.unand.ac.id/4618/2/BAB%20I.pdf) diakses pada 6 september 2017
  2. Pengertian Cerita Rakyat (http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/460/jbptunikompp-gdl-audrienura-22960-1-unikom_a-i.pdf) diakses pada 6 september 2017
  3. Cerita Rakyat Indonesia (http://antropologi.fib.ugm.ac.id/wp-content/uploads/Penelitian-Cerita-Rakyat-Lono-Simatupang.pdf) diakses pada 6 september 2017
  4. Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2004. Jakarta: Balai Pustaka.
  5. Udin, Syamsudin. 1996. Rebab Pesisir Selatan Malin Kundang. Jakarta: Yayasan Obor.
  6. Fungsi cerita rakyat (http://inzpirasikuw.blogspot.co.id/2010/10/fungsi-cerita-rakyat-dalam-kehidupan.html) di akses pada 6 september 2017
  7. jenis cerita rakyat (http://balaiedukasi.blogspot.co.id/2015/08/mengenal-jenis-jenis-cerita-rakyat.html) di akses pada 6 september 2017